![]() |
| Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti |
NEWSACEHTODAY, MAKASSAR - Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengungkap, Kolonel Inf Jefry Oktavianus Rotty memang sudah lama dicurigai sebagai pecandu. Selain Dandim Makassar itu, Kepala Pusat Komando Pengendalian Operasi Kodam VII Wirabuana, Letkol Inf Budi Iman Santoso juga sudah diintai.
"Sebenarnya sudah lama ada informasi. Mereka sudah lama diselidiki. Tapi baru tadi malam (Rabu dini hari) bisa ditindak. Itu setelah ada laporan dari masyarakat kalau ada pesta sabu-sabu yang melibatkan Dandim dan satu Pamen di Hotel D’Maleo. Makanya kami inisiatif langsung bergerak," ujar Agus, seperti dikutip dari Fajar, Kamis (7/4).
Kasus narkoba dua perwira menengah Kodam VII/Wirabuana masih dalam proses penyelidikan Denpom. Proses penyelidikan berlangsung tertutup dan melibatkan BNNP Sulsel. Dalam penyelidikan tersebut, tim mendapatkan beberapa temuan baru. Salah satunya terkait dengan cairan yang disita dalam kamar hotel, lokasi Dandim Makassar Cs digerebek.
Sejauh ini, cairan itu diduga adalah narkoba jenis baru. Terlebih, dalam operasi kemarin, petugas tidak menemukan barang bukti sabu-sabu pada umumnya.
"Inilah yang sementara kami selidiki. Tidak ada sabu-sabu ataupun bong. Tetapi, ada cairan yang ditemukan pihak Denpom saat melakukan penggerebekan," jelas Kepala BNNP Sulsel, Brigjen Agus Budiman.
Lebih lanjut, Agus menyatakan kemungkinan cairan tersebut mengandung zat anfetamin. Efeknya hampir sama dengan narkoba jenis sabu-sabu.
"Jadi memang ada cairan yang seperti itu. Dan saat ini, itu yang lagi marak digunakan di Jakarta. Caranya dicampurkan pada minuman. Kami akan koordinasi dengan (laboratorium) BNN," bebernya. (markasa rani/zakiyuddin akbar/adk/jpnn)
Pria Stres Kuburkan Ibu di Dalam Rumah Sendiri
NEWSACEHTODAY, SLEMAN – Warga yang bernama Suprihono tinggal di Dukuh Sanggrahan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta membuat heboh tetangganya. Penyebabnya, pria 55 tahun itu menguburkan jenazah ibunya sendiri, Sukinah di dalam rumah.
Sukinah yang meninggal dalam usia 90 tahun memang sudah lama mengidap stroke dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Suprihono ternyata tak mau kematian ibunya justru merepotkan tetangga.
Proses penguburannya pun mulanya tak diketahui tetangga. Belakangan diketahui bahwa Supriyono mengalami gangguan kejiwaan.
Kapolsek Mlati Kompol Dwi Yuli Astono mengatakan, kejadian bermula saat kakak Suprihono yang bernama Sutini (60) bermaksud mendatangi Sukinah, Rabu (6/4) siang. Saat itu, Sutini mencoba mencari ibunya di kamar yang biasanya dipakai untuk berbaring.
Namun, Sutinah ternyata sudah tidak ada. Sutini pun mencari ke seluruh ruangan dan rumah kerabat di depannya. Hasilnya pun nihil.
Sutini lantas bertemu Suprihono. Mereka lantas duduk berdua.
Saat itulah Suprihono bercerita bahwa Sukinah sudah meninggal dunia dan telah dikubur. ”Diminta untuk mendoakan ibunya biar tenang, karena ternyata sudah dikuburkan oleh Suprihono,” kata Astono seperti dikutip Radar Jogja.
Pengakuan Suprihono sontak membuat Sutini panik dan histeris. Ia lantas menghubungi kepala desa untuk memberitahukan kejadian itu. Laporannya lantas berlanjut ke Polsek Mlati.
Astono menjelaskan, tim dokter dari Polda DIJ sudah memeriksa jenazah Sukinah. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada tanda-tanda mencurigakan pada tubuh Suknah.
”Jadi bukan dikubur hidup-hidup, tapi memang sudah meninggal dunia. Sukinah memang sudah tua dan sakit-sakitan,” ujar Astono.
Hanya saja, polisi memboyong Suprihono ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia. ”Masih kami dalami soal adanya tindak pidana, saat ini Suprihono sudah di rumah sakit jiwa. Memang mengalami gangguan jiwa saat pulang dari perantauan di Kalimantan,” papar Astono.
Terpisah, Kepala Dukuh Sanggrahan Totok Dwi Ranto mengatakan, Suprihono dan ibunya sehari-hari memang tinggal satu rumah. Dia mengatakan, saat Sutini tiba di rumah itu sudah ada gundukan tanah di dalam rumah.
Sutini lantas mencari Suprihono dan diajak ke dalam rumah. Di dalam rumah Sutini diajak berdoa di atas gundukan tanah yang merupakan kuburan ibunya.
”Sore harinya polisi langsung melakukan penggalian hingga malam hari untuk mengambil jenazah yang dikubur. Sore lapor, langsung polisi datang dan digali. Sudah diangkat tadi oleh polisi dan dimakamkan di pemakaman umum,” ujarnya.
(riz/ila/ong/JPG/ara/jpnn)


Post a Comment